Jadi Persyaratan Penting, Ini Jenis Akad yang Dipakai dalam Asuransi Syariah


Dalam asuransi jiwa syariah, atau jenis asuransi syariah lainnya, akad atau perjanjian termasuk ke dalam salah satu persyaratan yang wajib dilakukan antara nasabah dan perusahaan. Tak heran jika asuransi yang didasari oleh syariat agama Islam ini banyak diminati oleh umat muslim. Sebelum membaca artikel ini lebih lanjut, bagi Anda yang tertarik untuk menggunakan asuransi ini, silakan cek produknya di sini, ya. Jika sudah, yuk kita mulai pembahasan mengenai akad dalam asuransi syariah!

Jenis-jenis akad dalam asuransi syariah

Secara garis besar, akad merupakan perjanjian tertulis yang terdiri atas hak dan kewajiban yang disepakati bersama. Dalam asuransi syariah, akad disusun dengan mengikuti syariat agama Islam dan tidak akan memuat gharar (praktik penipuan), maysir (judi), zhulm (penganiayaan), risywah (praktik suap), maksiat, barang-barang haram, hingga riba’ yang paling dihindari nasabah. Terdapat tiga jenis akad yang digunakan, antara lain:

  • Akad tabarru’

Jenis akad ini diberlakukan antar nasabah yang memegang polis asuransi syariah. Tujuan dari pelaksanaan akad tabarru’ dalam bentuk hibah adalah tolong menolong antar nasabah alih-alih untuk kepentingan komersial. Anda sebagai nasabah pun diwajibkan memberikan dana untuk mencapai tujuan tersebut. Sementara perusahaan bertindak sebagai pengelola dana berdasarkan akad dari nasabah, kecuali untuk kepentingan investasi. 
  • Akad wakalah bil ujrah

Dalam jenis akad ini, nasabah berhak memberi kuasa kepada perusahaan dengan ujrah atau fee. Akad wakalah bil ujrah umumnya diaplikasikan pada asuransi syariah dengan unsur tabungan atau saving maupun tabarru’ atau non-saving. Berbeda dari akad sebelumnya, dalam akad wakalah bil ujrah, perusahaan bertindak sebagai wakil untuk mengatur dana yang masuk dan nasabah sebagai muwakkil dengan peran yang sama.
  • Akad mudharabah

Kemudian ada akad mudharabah atau tijarah yang menempatkan perusahaan sebagai mudharib (pengelola) dan nasabah sebagai shahibul mal (peserta). Nasabah nantinya akan memberi kuasa kepada perusahaan untuk mengatur dana tabarru’ maupun investasi sesuai wewenang. Kemudian nasabah serta perusahaan akan menerima imbalan dari nisbah atau bagi hasil yang jumlahnya sudah disepakati bersama.

Istilah-istilah lain dalam asuransi syariah

Selain tiga jenis akad utama, ada juga istilah lain terkait perjanjian yang perlu Anda ketahui, yaitu:
  • Surplus underwriting. Surplus underwriting memungkinkan dana tabarru’ untuk disimpan separuhnya untuk dana cadangan dan dibagikan sebagian pada nasabah dan perusahaan. Dana juga dapat digunakan sebagai cadangan sepenuhnya;
  • Defisit underwriting. Apabila situasi ini terjadi, maka perusahaan harus menanggulangi kekurangan dana tabarru’ dengan pinjaman atau qardh. Pengembaliannya bisa dilakukan dengan cicilan dari dana tabarru’;
  • Al Wardh Al Hasan. Istilah ini merujuk pada pinjaman murni dana milik perusahaan untuk dana tabarru’ saat defisit terjadi. 
Demikian informasi terkait akad dalam asuransi syariah. Mudah-mudahan Anda bisa memahami lebih dalam seputar perjanjian dalam produk ini dan mengikutinya sesuai ketentuan yang telah perusahaan tetapkan untuk nasabah.

Jadi Persyaratan Penting, Ini Jenis Akad yang Dipakai dalam Asuransi Syariah